Lombok Tengah – Hari terakhir penghitungan surat suara pemilu 2024 di KPU Loteng (Lombok Tengah) memasuki babak akhir, Selasa 5 Maret 2024.
Terlihat massa masih terkonsentrasi di depan lokasi penghitungan KPU Loteng di depan eks Aerotel Kota Praya, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah.
“Penjara” dan “tangkap PPK” menggema dari megaphone massa yang menuntut agar PPK (Panitia Penyelenggara Pemilu) ditindak karena massa menduga ‘mencurangi’ surat suara.
Massa sendiri enggan membubarkan diri meskipun hujan melanda daerah sekitar.
Lalu Tajir Syahroni salah satu Caleg PPP Dapil 8 Lombok Tengah blak-blakan mengatakan proses pemilu 2024 ini ‘bar-bar’ dan mempertontonkan money politik secara nyata.
“Jadi diseluruh proses pemilu 2024 ini terjadi bar-barisme, terjadi kanibalisme, terjadi perampokan. Mulai dari pelanggaran money politics di seluruh wilayah tapi tak ada yang diproses oleh bawaslu, panwascam.” Ucap Ketua LSM Suaka NTB ini.
Menurutnya, di semua wilayah terjadi money politics, namun tidak ada satupun di proses Badan Pengawas Pemilu.
“Seluruh tempat terjadi money politik, tapi tidak ada satupun yang diproses oleh bawaslu, jadi dana miliaran untuk bawaslu ini percuma.” Terangnya.
“Jadi sia-sia negara ini membayar bawaslu.” tegas Lalu Tajir yang juga aktivis senior Lombok Tengah ini.
Lalu Tajir mengklaim bahwa hasil pemilihan umum atau pemilu tahun 2024 ini adalah hasil ‘tipe-x’.
“Jadi ini seluruhnya hasil tipex, pemilu ini hasil tipe – x karena boleh ditipe – x, karena ditambah dikurang semau maunya. Lebih besar hasil tipe – x dari hasil aslinya.” lanjut Lalu Tajir.
Mantan calon Bupati itu pun menantang Bawaslu atau pihak yang keberatan atas pernyataannya untuk melakukan keberatan jika memang hal yang dia sampaikan bukanlah fakta.