Lintasmandalika.com – Ketua Mandalika Hotel Association (MHA), Samsul Bahri, menilai perhelatan Bau Nyale tidak sekadar menjadi tradisi tahunan masyarakat Sasak, tetapi juga ajang strategis dalam melestarikan warisan budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menurutnya, ritual Bau Nyale yang sarat nilai sejarah dan legenda Putri Mandalika memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan.
Seiring waktu, kegiatan ini terus berkembang menjadi event budaya berskala besar yang mampu menarik perhatian wisatawan nusantara hingga mancanegara.
“Bau Nyale bukan hanya tradisi, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga. Jika dikemas dengan baik, event ini memiliki nilai jual tinggi sebagai paket wisata unggulan,” ujar Samsul Bahri.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan seperti parade budaya, pemilihan Putri Mandalika, hingga berbagai atraksi seni tradisional menjadi magnet tersendiri dalam setiap pelaksanaan Bau Nyale.
Terlebih, tradisi menangkap nyale yang hanya terjadi setahun sekali memberikan pengalaman unik bagi wisatawan yang ingin merasakan langsung kearifan lokal masyarakat Sasak.
Pelaku industri pariwisata, lanjutnya, melihat peluang besar jika seluruh rangkaian acara tersebut dikemas secara terintegrasi.
Mulai dari penyajian atraksi budaya, promosi kuliner khas Lombok, hingga pemanfaatan promosi digital dinilai mampu memperluas jangkauan pasar wisata.
“Pengemasan yang profesional akan menjadikan Bau Nyale sebagai calendar of event unggulan NTB. Dampaknya tentu langsung terasa pada peningkatan kunjungan wisatawan dan okupansi hotel di kawasan Mandalika,” tambahnya.
Samsul menekankan, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, serta masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam mengembangkan Bau Nyale sebagai event budaya berkelas.
Ia optimistis, dengan kolaborasi yang kuat, tradisi ini tidak hanya bertahan sebagai simbol pelestarian budaya, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi daerah berbasis kearifan lokal.