Lombok Tengah – Dalam era Kurikulum Merdeka, pembelajaran tidak lagi dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan semata. Lebih dari itu, pembelajaran dituntut untuk bersifat mendalam dan berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Namun sayangnya, implementasi pembelajaran mendalam di lapangan masih menghadapi tantangan besar, salah satunya adalah kurangnya pemahaman dari para kepala sekolah selaku pemimpin pembelajaran di satuan pendidikan.
Demikian hal itu disampaikan oleh Lalu Hadid Warsito selaku ketua KKG PJOK Kecamatan Jonggat, Sekertaris KKG Kabupaten Lombok tengah, pengurus cabang olahraga, aktivis olahraga dan peneliti Kemenpora SDI,TKPN dan TKSI Kabupaten Lombok Tengah, Minggu 22/6/2025.
Menurut Warsito, banyak kepala sekolah masih terjebak pada pendekatan administratif dan kognitif semata. Fokus utama diarahkan pada pencapaian nilai, pelaporan, dan target kurikulum, namun mengabaikan dimensi yang justru menjadi esensi dari pendidikan pengembangan karakter, penguatan akhlak, serta keseimbangan antara aspek intelektual, emosional, dan jasmani peserta didik.
“Salah satu bukti konkret dari minimnya pemahaman ini terlihat dari bagaimana pendidikan jasmani dan olahraga sering kali dipinggirkan. Mata pelajaran PJOK masih dianggap sebagai pelengkap, bukan bagian esensial dari proses pembelajaran mendalam. Aktivitas olahraga yang seharusnya menjadi sarana membangun kesadaran diri, kerja sama sosial, dan kesehatan mental justru sering dikorbankan demi tambahan waktu pelajaran akademik” jelasnya.
Padahal menurutnya, dalam konteks pembelajaran mendalam, olahraga memiliki peran vital. Kegiatan jasmani tidak hanya meningkatkan fungsi otak dan konsentrasi, tetapi juga melatih keterampilan sosial dan daya juang peserta didik.
” Ini adalah pengalaman belajar yang konkret, kontekstual, dan bermakna. Ketika seorang anak belajar mengendalikan emosi saat bermain tim atau menerima kekalahan dengan lapang dada, di situlah nilai-nilai pendidikan sejati terbentuk. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu membangun paradigma baru” lanjutnya.
Warsito menegaskan menjadi pemimpin pembelajaran bukan hanya soal administrasi atau supervisi kurikulum, tetapi bagaimana menciptakan ekosistem belajar yang menyeluruh, dimana Kepala sekolah harus menjadi promotor utama pembelajaran mendalam, termasuk di dalamnya memposisikan olahraga sebagai instrumen penting dalam membentuk manusia yang utuh sehat jasmani, cerdas emosi, dan kuat secara spiritual.
“Jika paradigma ini tidak segera dibenahi, maka pembelajaran mendalam hanya akan menjadi jargon dalam dokumen resmi tanpa ruh dalam praktik. Sekolah akan kehilangan fungsinya sebagai ruang tumbuh anak secara utuh. Sudah saatnya kepala sekolah tidak hanya mengelola sekolah, tetapi benar-benar memimpin pembelajaran” tegasnya.