Lombok Tengah – Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Ardhia Rinjani Kabupaten Lombok Tengah mulai menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa bulan ke depan. Meski kondisi ketersediaan air saat ini masih tergolong aman, potensi penurunan debit sumber mata air tetap menjadi perhatian.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Ardhia Rinjani Lombok Tengah mengatakan, menghadapi musim kemarau bukanlah hal baru karena kondisi serupa terjadi setiap tahun. Namun demikian, pihaknya tetap melakukan berbagai persiapan untuk memastikan pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
Menurutnya, hingga awal Juni 2026, kondisi produksi air masih berada pada level normal dengan kapasitas sekitar 800 liter per detik. Debit tersebut dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan pelanggan di seluruh wilayah layanan PDAM.
“Secara riil kondisi air saat ini masih aman dan normal. Produksi kita berada di angka sekitar 800 liter per detik sehingga masyarakat masih bisa terlayani dengan baik, meskipun memang ada beberapa penurunan di titik-titik tertentu,” ujarnya, kemarin.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa saat memasuki puncak musim kemarau, produksi air berpotensi mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, debit air dapat turun hingga kisaran 400 sampai 500 liter per detik.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PDAM akan segera menggelar rapat evaluasi terhadap seluruh sumber mata air yang menjadi andalan pasokan air bersih di Lombok Tengah. Selain itu, sejumlah pekerjaan teknis juga akan dilakukan, termasuk pemeriksaan dan evaluasi jaringan distribusi.
“Kalau memang ada pipa yang harus diganti, akan kami upayakan penggantiannya sesuai kemampuan anggaran. Tujuannya agar pelayanan kepada masyarakat tetap maksimal sekaligus mengurangi potensi kebocoran air,” ujarnya.
Selain pembenahan jaringan, PDAM juga menyiapkan armada mobil tangki sebagai langkah darurat apabila terdapat wilayah yang tidak lagi dapat dilayani melalui sistem perpipaan akibat menurunnya debit air.
Pendistribusian air bersih melalui mobil tangki nantinya akan dilakukan dengan berkoordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Tengah. Bantuan tersebut tidak hanya menyasar pelanggan PDAM, tetapi juga masyarakat di wilayah yang belum menjadi pelanggan apabila kondisi darurat terjadi.
“Kami akan berkoordinasi dengan BPBD untuk pendistribusian air bersih. Bagi pelanggan tentu akan menjadi prioritas karena mereka merupakan pengguna layanan kami. Namun masyarakat nonpelanggan juga tetap akan dibantu sesuai kemampuan yang ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, distribusi air kepada masyarakat nonpelanggan kemungkinan akan dibatasi karena meskipun air tidak diperjualbelikan dalam kondisi darurat, tetap terdapat biaya operasional yang harus ditanggung, mulai dari bahan bakar hingga tenaga operator.
Selama ini, kegiatan distribusi air bersih darurat kepada masyarakat di luar pelanggan PDAM kerap dilakukan melalui dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), mengingat tidak adanya alokasi anggaran khusus untuk kegiatan tersebut.
“Ya tentu kami berharap kebutuhan air bersih masyarakat Lombok Tengah selama musim kemarau tetap dapat terpenuhi dan dampak kekeringan dapat diminimalkan,” ujarnya.