Lintasmandalika.com – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Tengah, dr. Mamang Bagiansyah, memberikan penjelasan resmi terkait informasi yang menyebutkan adanya peningkatan kasus atau merebaknya Influenza A di wilayah Kabupaten Lombok Tengah.
Dinkes Lombok Tengah menyatakan bahwa secara diagnosis formal belum ada kasus Influenza A yang ditegakkan. Penegakan diagnosis Influenza A memerlukan pemeriksaan biologis molekuler seperti halnya prosedur pemeriksaan COVID-19 pada masa lalu, dan saat ini hal tersebut belum dilakukan.
Namun dr. Mamang mengatakan Kategori Kasus Masih Sebatas Suspek. Dinkes menerima informasi adanya beberapa warga yang mengalami gejala-gejala yang mengarah atau dicurigai (suspek) sebagai Influenza A.
dr. Mamang menjelaskan bahwa karakteristik influenza A berbeda dengan covid 2019.
”Influenza A memiliki karakteristik gejala yang cenderung lebih panjang dan lebih parah dibandingkan jenis influenza biasa, meskipun strain dasarnya tetap merupakan virus influenza” jelas dr Mamang pada Kamis,15 Oktober 2026.
Virus influenza A sendiri dapat menyerang ketika daya tahan tubuh atau imun menurun, sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap menjalani aktivitas hidup sehat.
“Penanganan bagi pasien yang mengalami gejala meliputi upaya peningkatan daya tahan tubuh serta pemberian obat-obatan simptomatis (sesuai gejala yang dirasakan, seperti obat penurun panas jika mengalami demam dan vitamin)” lanjutnya.
Pencegahan penyebaran virus ini berporos pada interaksi tiga komponen utama, yaitu agen (virus), host (tubuh pasien), dan lingkungan. Karena faktor lingkungan dan cuaca (seperti panas atau kelembapan) sulit dimodifikasi, fokus pencegahan diarahkan pada penguatan host (daya tahan tubuh).
Kebijakan pembatasan jarak (social distancing atau jaga jarak ketat) seperti pada masa pandemi COVID-19 tidak direkomendasikan secara khusus untuk kasus ini. Namun, masyarakat diimbau untuk menjaga daya tahan tubuh, menerapkan pola hidup sehat, serta istirahat dan konsumsi air putih yang cukup.
Risiko Komplikasi: Komplikasi lanjutan dari penyakit ini dapat berdampak pada area serebral (otak) dan pulmonari (paru-paru). Kendati demikian, sejauh data nasional yang diketahui, tidak ada kasus kematian akibat mutasi atau keparahan ekstrem, melainkan durasi sakitnya yang cenderung lebih panjang.
Status Kasus Saat Ini: Sejauh ini, kasus yang ditemukan hanya berupa temuan satu-dua kasus bergejala menyerupai flu panjang dan belum pernah berstatus sebagai kejadian luar biasa (outbreak) di Lombok Tengah. Dinkes juga tidak mewajibkan swab massal bagi setiap warga bergejala ringan seperti di era pandemi lalu.