Lombok Tengah – Matahari belum genap sepenggalah di Tanjung Aan, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, namun suasana sudah memanas, nyaris terbakar.
Bukan karena terik yang memanggang pasir putih, melainkan oleh intonasi tinggi Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah yang merobek ketenangan pagi menjelang siang itu.
Penggusuran warung-warung di bibir pantai yang sedianya berjalan “tertib”, seketika berubah jadi tontonan yang menyayat hati, bahkan memalukan.
Peristiwa itu menyorot seorang wisatawan mancanegara, perempuan berparas jelita, yang sedang menikmati keindahan alam didepan warung Aloha bersama pasangannya, terjebak di tengah drama penertiban.
Ia bukan pemilik warung, bukan pula penghalang proses. Namun, rupanya, keberadaannya di lokasi penggusuran dianggap mengganggu.
Dengan suara menggelegar, sang Kepala Dinas, Lalu Sungkul tanpa kompromi menghardik.
“Please pickup your luggage and than stay away (silakan ambil barang bawaan anda dan kemudian menjauh, red),” hardiknya, menunjuk ke arah perempuan bule itu seolah ia adalah sampah yang harus segera disingkirkan.
Sontak, air mata sang bule pecah. Bukan sekadar isak tangis biasa, melainkan tangis histeris yang menahan malu, terkejut, dan mungkin juga amarah.
Diketahui, Proses land clearing atau pengosongan lahan di sepadan Pantai Tanjung Aan pada Selasa (15/7/2025) berjalan aman dan lancar.
Dari pantauan dilokasi, banyak pemilik warung melakukan pembongkaran secara mandiri.
Kapolres Lombok Tengah, AKBP Eko Yusmiarto menilai tidak ada kendala selama kegiatan pengosongan lahan berlangsung.
“Tidak ada kendala, kita koordinasi dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengosongan lahan ini melibatkan total 700 personel gabungan.
“Personel yang kita libatkan 600 dari personel gabungan Polri, TNI, Satpol PP, BKD, kemudian 100 orang dari ITDC. Jadi 700 orang ada di sini untuk mengawal kegiatan pengamanan. 600 pengamanan dan 100 orang melakukan kegiatan pengosongan,” jelas AKBP Eko Yusmiarto.
Kegiatan pengosongan lahan ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari ke depan, dimulai hari ini. Pelaksanaan dibagi menjadi tiga area, yaitu tengah, timur, dan barat.
“Alhamdulillah sampai siang hari ini berjalan lancar,” imbuhnya.
Meskipun sempat ada permohonan waktu dari beberapa masyarakat yang melakukan hearing, Kapolres menegaskan bahwa waktu telah diberikan sebelumnya.
“Intinya minta waktu tapi kami sampaikan bahwa waktu sudah diberikan sebelumnya jadi hari ini kita sudah langsung action untuk melakukan pengosongan,” tegasnya.
AKBP Eko Yusmiarto menekankan bahwa kegiatan pengosongan lahan ini dilakukan berdasarkan dasar yang jelas dan bertujuan untuk mensukseskan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, yang merupakan prioritas Presiden.
“Hari ini area harus bersih, kita melakukan kegiatan pengosongan sampai 3 hari ke depan. Kita melakukan pengosongan lahan yang sudah jelas dasarnya, kita untuk mensukseskan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika prioritas presiden untuk kawal di sini,” tuturnya.
Dalam kegiatan ini, ITDC juga menyiapkan tiga alat berat. Pihak kepolisian, lanjut Kapolres, hanya bertugas mengawal agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang melawan hukum.
“Di sini kita hanya mengawal kegiatan masyarakat, jangan sampai masyarakat melawan kegiatan yang melawan hukum,” pungkasnya.