Mataram – Kematian Brigadir Muhammad Nurhadi, anggota Propam Polda Nusa Tenggara Barat, di sebuah kolam renang penginapan di Gili Trawangan, Rabu, 16 April 2025, masih menyisakan tanda tanya besar.
Meski disebut korban tewas karena tenggelam, keluarga dan kerabat almarhum justru mengendus kejanggalan yang belum terjawab.
Nurhadi, ayah dari dua anak kecil yang masih berusia satu bulan dan lima tahun, ditemukan tak bernyawa di sebuah kolam.
Rekan-rekannya, yang disebut tengah bersama Nurhadi saat itu, mengaku baru menyadari keberadaan tubuh korban setelah beberapa waktu.
Upaya pertolongan sempat dilakukan, namun nyawanya tak tertolong. Namun, alih-alih menenangkan, penanganan kematian ini justru memantik kecurigaan.
Tak adanya otopsi medis resmi, minimnya keterangan dari Polda NTB, dan ketertutupan informasi soal lokasi persis kejadian membuat luka di hati keluarga semakin menganga.
Kepala Desa Gili Indah, Dana, saat dimintai keterangan, mengaku tak tahu banyak soal insiden ini.
“Saya hanya dengar ada anggota polisi yang meninggal. Selebihnya, saya tidak tahu,” ujarnya pendek.
Usaha untuk menggali informasi dari kepala dusun Gili Trawangan juga menemui jalan buntu.
Sementara itu, fakta mencengangkan justru terungkap dari keterangan Taufiq Mardanu, sahabat sekaligus pemandi jenazah Nurhadi.
Ia menyebut menemukan sejumlah luka yang tak biasa pada tubuh almarhum, memar di bawah alis mata, luka sobek di punggung kaki, lebam di leher belakang, hingga darah yang terus keluar dari hidung dan luka-luka tersebut saat proses pemandian.
“Waktu datang kondisi mayatnya dingin. Datang hari Kamis (minggu lalu). Mata sebelah kanan luka pas di bawah alis mata. Kayak memar tapi terus keluar darah. Sampai habis dimandikan keluar darah,” cerita Taufiq.
Menurut Taufiq, semua yang hadir saat memandikan jenazah ikut mempertanyakan kondisi tubuh Nurhadi yang penuh luka, terlebih lagi mengingat tidak adanya proses otopsi medis yang dilakukan sebelum jenazah dipulangkan ke keluarga.
Kenangan Taufiq tentang Nurhadi menambah pilu cerita ini. Ia menggambarkan Nurhadi sebagai sosok ayah yang bertanggung jawab.
“Waktu saya mandiin almarhum, anaknya yang paling besar digendong. Dia bilang ‘mau diapain ayah saya?’ saya jawab mau dimandiin. Dia nanya ‘terus mau diapain’, saya bilang dikubur. Dia nanya lagi kapan ayah bangun, langsung saya sedih dengar itu,” kenangnya.
Seperti informasi yang beredar bahwa Nurhadi terakhir terlihat berenang sekitar pukul 17.00 WITA, sebelum ditemukan tidak sadarkan diri di dasar kolam.
Penanganan medis darurat dilakukan di lokasi, sebelum akhirnya korban dinyatakan meninggal dunia di klinik setempat pada pukul 22.14 WITA.
Namun, hingga kini, benang merah tentang apa yang sebenarnya terjadi di Gili Trawangan pada sore itu tetap samar.
Ketertutupan informasi dari pihak berwenang, serta luka-luka misterius di tubuh Nurhadi, justru mempertebal kecurigaan bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya diungkap.
Pihak keluarga dan sahabat berharap ada kejelasan dan investigasi menyeluruh atas kematian Brigadir Muhammad Nurhadi. Bagi mereka, keadilan harus ditegakkan.