Lintasmandalika.com – Perputaran ekonomi dari penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencapai sekitar Rp 5,2 triliun. Nilai tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp 4,9 triliun, seiring tingginya antusiasme pengunjung dan bertambahnya investasi pariwisata di kawasan Mandalika dan sekitarnya.
Tak hanya mendongkrak aktivitas ekonomi selama ajang balap berlangsung, MotoGP juga menjadi magnet bagi investor untuk mengembangkan hotel, resor, dan berbagai fasilitas wisata baru. Perkembangan ini memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism yang berpotensi menggerakkan perekonomian Lombok dan NTB secara lebih luas.
Direktur Operasi InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Troy Warokka mengatakan, peningkatan jumlah penonton dan pengunjung setiap tahun menunjukkan besarnya dampak MotoGP terhadap perekonomian daerah. Namun, pertumbuhan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam mempersiapkan fasilitas dan infrastruktur pendukung.
“Setiap tahun jumlah pengunjung terus meningkat. Ini menjadi tantangan tersendiri, tetapi sekaligus menunjukkan besarnya dampak penyelenggaraan MotoGP terhadap perekonomian,” ungkap Troy.
Menurut dia, meningkatnya antusiasme masyarakat menuntut kesiapan yang lebih matang, mulai dari infrastruktur, akomodasi, keamanan, hingga ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.
Daya tarik MotoGP turut mendorong perkembangan investasi di kawasan Mandalika. Troy menyebut, investor asal Spanyol mulai masuk melalui pengembangan resor dan hotel baru untuk melengkapi fasilitas akomodasi yang telah tersedia, termasuk Alkasaba.
Masuknya investor tersebut menjadi salah satu indikasi berkembangnya potensi bisnis pariwisata di Mandalika, seiring meningkatnya kebutuhan penginapan dan aktivitas wisata.
Dampak tingginya kunjungan juga dirasakan di Kota Mataram. Selama penyelenggaraan MotoGP 2026, permintaan akomodasi tidak hanya menyasar hotel, tetapi turut mendorong keterisian *guest house*.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perputaran ekonomi MotoGP tidak hanya terkonsentrasi di sekitar sirkuit, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat bagi pelaku usaha perhotelan dan pariwisata di wilayah lain di Pulau Lombok.
Sejumlah proyek baru pun disiapkan untuk memperluas daya tarik Mandalika. Salah satunya pembangunan mini sirkuit di atas lahan sekitar tiga hektare.
Selain itu, terdapat pengembangan Niti Villa di atas lahan sekitar 2,5 hektare. Sementara itu, proyek Safari Villa disebut segera rampung.
Pengembangan fasilitas penginapan juga direncanakan melalui pembangunan Circuit Villa sebanyak 18 unit. Berbagai proyek tersebut diharapkan dapat menambah pilihan akomodasi sekaligus memperkuat daya saing Mandalika sebagai destinasi wisata internasional.
Tak berhenti pada pengembangan penginapan, proyek Wake Park Lagoon juga direncanakan mulai dikerjakan pada Maret 2027. Kehadiran fasilitas baru ini diharapkan memperluas pilihan aktivitas wisata dan meningkatkan daya tarik kawasan bagi wisatawan maupun investor.
Dengan bertambahnya fasilitas akomodasi dan rekreasi, Mandalika diharapkan tidak hanya ramai ketika MotoGP berlangsung, tetapi juga mampu menarik kunjungan wisatawan sepanjang tahun.
Troy mengatakan, MotoGP Mandalika memiliki nilai strategis karena menjadi ajang promosi pariwisata Indonesia di tingkat internasional.
Ajang balap tersebut disebut menjangkau penonton dari lebih dari 200 negara dengan jumlah pemirsa sekitar 700 juta orang. Jangkauan tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan Mandalika kepada pasar global sekaligus meningkatkan minat wisatawan dan investor terhadap kawasan itu.
Antusiasme masyarakat juga mendapat tambahan dorongan dari kehadiran pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama. Kehadiran pembalap nasional menjadi salah satu daya tarik yang memperkuat perhatian publik terhadap ajang balap internasional tersebut.
Menurut Troy, pengembangan Mandalika perlu diarahkan agar manfaat MotoGP dapat terus dirasakan di luar periode penyelenggaraan. Dengan demikian, investasi yang masuk dapat mendukung aktivitas pariwisata dan ekonomi secara berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya perputaran ekonomi dan perkembangan investasi, ketersediaan air dan keamanan masih menjadi persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian.
Kedua aspek tersebut dinilai penting untuk memastikan kawasan Mandalika mampu menampung peningkatan jumlah pengunjung, sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan, investor, dan masyarakat setempat.
Pengembangan kawasan, menurut Troy, harus berjalan beriringan dengan kesiapan infrastruktur dasar serta pengelolaan destinasi yang berkelanjutan.
Sebab, pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya ditopang oleh penyelenggaraan ajang internasional dan pembangunan fasilitas baru. Kesiapan layanan dasar juga diperlukan agar investasi yang masuk dapat berkembang dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Ke depan, dampak MotoGP diharapkan tidak hanya dirasakan di kawasan Mandalika, tetapi juga meluas ke berbagai wilayah di Lombok dan NTB. Peningkatan kunjungan wisatawan dan investasi diharapkan membuka peluang usaha, memperluas aktivitas ekonomi masyarakat, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata daerah.
Dengan perputaran ekonomi yang meningkat dari Rp 4,9 triliun menjadi Rp 5,2 triliun, MotoGP Mandalika semakin menunjukkan potensinya sebagai penggerak ekonomi sekaligus pintu masuk investasi pariwisata di NTB. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut dapat berlangsung sepanjang tahun dan memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.