Lintasmandalika.com — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Lombok Tengah mendorong Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah bersama DPRD Lombok Tengah menjadikan revitalisasi dan penataan Lapangan PSLT atau Lapangan Bundar Praya sebagai salah satu prioritas dalam kebijakan anggaran 2027.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua Harian KONI Lombok Tengah, Samsul Rizal, SH., MH., sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.
Menurut Samsul, persiapan venue pertandingan tidak boleh dilakukan secara mendadak. Tahun 2027 dinilai menjadi momentum penting untuk mempercepat pembenahan sarana dan prasarana olahraga, termasuk venue yang berpotensi digunakan dalam penyelenggaraan PON.
“Kita tidak boleh menunggu sampai PON 2028 sudah dekat baru kemudian berpikir tentang venue. Kalau kita ingin Lombok Tengah sukses menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan PON, maka persiapan harus dimulai sekarang. Tahun 2027 harus kita manfaatkan untuk memastikan venue-venue yang diajukan benar-benar siap,” ujar Samsul.
PSLT Dinilai Bukan Sekadar Venue Olahraga
KONI Lombok Tengah menilai Lapangan PSLT memiliki posisi strategis karena berada di kawasan perkotaan Praya dan selama ini menjadi salah satu ruang publik yang dekat dengan aktivitas masyarakat.
Karena itu, revitalisasi PSLT dinilai tidak cukup hanya dengan memperbaiki kondisi lapangan. Penataan kawasan secara menyeluruh juga diperlukan agar fasilitas tersebut dapat berfungsi sebagai venue olahraga sekaligus ruang publik yang representatif.
Penataan dapat mencakup landscape dan area outdoor, akses masuk, pedestrian, drainase, penerangan, kebersihan, penghijauan, fasilitas penonton, sanitasi, area pendukung, serta estetika lingkungan sekitar.
“Kita harus berpikir lebih jauh. Lapangan PSLT jangan hanya diperbaiki agar bisa digunakan untuk pertandingan, tetapi harus ditata sehingga ketika atlet, ofisial dan masyarakat dari luar daerah datang ke Praya, mereka melihat bahwa Lombok Tengah memang serius mempersiapkan diri sebagai bagian dari penyelenggaraan event olahraga nasional,” katanya.
Menurut Samsul, pembenahan PSLT juga memiliki dimensi yang lebih luas karena kawasan tersebut merupakan bagian dari wajah Kota Praya.
“PSLT bukan hanya persoalan lapangan olahraga, tetapi juga bagian dari wajah Kota Praya dan wajah Lombok Tengah,” tegasnya.
PON 2028 Dinilai Buka Peluang Ekonomi
KONI Lombok Tengah juga melihat penyelenggaraan PON 2028 bukan semata-mata sebagai agenda olahraga, tetapi sebagai momentum untuk menggerakkan berbagai sektor ekonomi daerah.
Jika Lombok Tengah menjadi lokasi pertandingan sejumlah cabang olahraga, maka kedatangan atlet, pelatih, ofisial, wasit, panitia, media dan masyarakat dari berbagai daerah berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi.
Sektor akomodasi, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif hingga pariwisata dinilai dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya mobilitas selama penyelenggaraan PON.
“Kita jangan melihat PON hanya dari sisi pertandingan. Kita harus melihat PON sebagai peluang ekonomi, pariwisata, promosi daerah dan peningkatan kualitas infrastruktur. Jangan sampai peluang sebesar ini hanya lewat di depan mata kita,” ujar Samsul.
Ia menambahkan, kehadiran peserta PON dari berbagai daerah juga dapat menjadi sarana memperkenalkan potensi Lombok Tengah secara lebih luas.
Sejumlah Venue Diajukan
KONI Lombok Tengah menyebut sejumlah lokasi telah diajukan untuk mendukung penyelenggaraan PON 2028.
Di antaranya GOR Tastura untuk cabang olahraga judo, Sky Lancing untuk aerosport, Pantai Mandalika/Selong Belanak untuk voli pasir, Bendungan Batujai untuk dayung, Lapangan Kuda Pacu Sasake untuk pacuan kuda, serta Lantan untuk kuda memanah.
Selain lokasi tersebut, masih terdapat sejumlah venue dan cabang olahraga lainnya yang dipersiapkan.
Samsul menegaskan, pengajuan venue harus diikuti kesiapan nyata, baik dari sisi fasilitas pertandingan maupun infrastruktur pendukung.
“Tidak cukup hanya mengajukan venue. Tidak cukup hanya memiliki lokasi. Venue harus dipersiapkan, akses harus diperbaiki, lingkungan harus ditata, fasilitas pendukung harus dipastikan, dan seluruh kebutuhan penyelenggaraan harus dipetakan sejak dini,” jelasnya.
KONI Dorong Sinergi Pemkab dan DPRD
KONI Lombok Tengah berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan DPRD memiliki visi yang sama dalam mempersiapkan infrastruktur olahraga menuju PON 2028.
KONI memahami pemerintah daerah memiliki berbagai kebutuhan pembangunan serta keterbatasan fiskal. Namun, persiapan venue PON dinilai dapat ditempatkan sebagai bagian dari investasi pembangunan daerah apabila dirancang dengan mempertimbangkan manfaat jangka panjang.
Karena itu, pembahasan APBD 2027 diharapkan dapat memberikan ruang bagi pembiayaan secara bertahap terhadap venue yang dipersiapkan menjadi lokasi pertandingan.
“Kami tidak ingin eksekutif dan legislatif berjalan sendiri-sendiri. Kita berharap ada satu cara pandang bahwa persiapan PON adalah agenda bersama. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan anggaran, DPRD memberikan dukungan melalui fungsi anggaran dan pengawasan, sementara KONI dan cabang olahraga memastikan kebutuhan teknis olahraga dapat dipersiapkan dengan baik,” kata Samsul.
Menurutnya, koordinasi tersebut penting agar pembangunan tidak dilakukan secara parsial.
“Jangan sampai satu venue diperbaiki, tetapi fasilitas pendukungnya tertinggal. Jangan sampai lapangan sudah siap, tetapi akses dan lingkungan belum tertata,” tambahnya.
2027 Harus Jadi Tahun Percepatan
KONI secara khusus menekankan pentingnya tahun anggaran 2027 sebagai masa konsolidasi dan percepatan persiapan.
Perencanaan, penganggaran, pekerjaan fisik, penataan kawasan hingga pemenuhan fasilitas pendukung membutuhkan waktu. Karena itu, pekerjaan yang dapat dimulai pada 2027 dinilai perlu segera dipersiapkan.
“Jangan sampai kita baru bergerak ketika waktu sudah sempit. Kalau 2028 adalah tahun pelaksanaan, maka 2027 harus menjadi tahun percepatan persiapan. Apa yang bisa dikerjakan pada 2027, mari kita kerjakan. Apa yang harus direncanakan, mari kita rencanakan. Apa yang membutuhkan anggaran, mari kita masukkan dalam prioritas,” ujar Samsul.
Ia menegaskan prinsip persiapan yang harus digunakan adalah “siap sebelum PON, bukan siap ketika PON.”
Revitalisasi Harus Tinggalkan Legacy
KONI Lombok Tengah berharap revitalisasi Lapangan PSLT tidak hanya berorientasi pada kebutuhan PON 2028.
Fasilitas yang dibangun harus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setelah pesta olahraga nasional tersebut berakhir.
PSLT diharapkan tetap dapat digunakan untuk pembinaan atlet, kompetisi olahraga, kegiatan masyarakat maupun berbagai kegiatan lainnya.
“PON datang dan pergi, tetapi fasilitas publik tetap tinggal dan digunakan masyarakat,” kata Samsul.
Menurutnya, perspektif tersebut penting agar investasi pemerintah terhadap venue olahraga memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Momentum Mengangkat Citra Lombok Tengah
KONI Lombok Tengah berharap PON 2028 dapat menjadi momentum untuk mempercepat peningkatan kualitas infrastruktur olahraga sekaligus mendorong aktivitas ekonomi, pariwisata dan promosi daerah.
Jika sejumlah venue di Lombok Tengah digunakan dalam penyelenggaraan PON, daerah tersebut akan menjadi bagian dari rangkaian aktivitas yang melibatkan atlet dan masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia.
“Kita ingin PON 2028 menjadi momentum lompatan bagi Lombok Tengah. Ketika atlet dari seluruh Indonesia datang ke sini, mereka tidak hanya bertanding, tetapi juga membawa pulang cerita tentang Lombok Tengah. Itu promosi daerah yang nilainya sangat besar,” ungkap Samsul.
Ia menegaskan, keberhasilan persiapan PON tidak hanya diukur dari terlaksananya pertandingan, tetapi juga dari manfaat yang dapat ditinggalkan bagi masyarakat.
“Kita ingin ketika PON 2028 berlangsung, Lombok Tengah bukan hanya menjadi daerah yang kebetulan mendapatkan lokasi pertandingan. Kita ingin Lombok Tengah benar-benar tampil sebagai daerah yang siap, layak dan mampu menjadi bagian penting dari suksesnya PON 2028,” pungkas Samsul Rizal.